Skip to content

Triwulan I: Program Promosi Model Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah-sekolah di Kabupaten Sikka

  1. PENDAHULUAN

 Tragedi kelam gempa dan tsunami 12 Desember 1992 telah meninggalkan duka bagi warga Kabupaten Sikka. Sudah tak bisa digambarkan dengan kata-kata hanya empati dan solidaritas kemanusiaan yang barangkali bisa menangkap isyarat bahwa duka gempa tektonik itu memang teramat dalam.Tsunami yang memporakporandakan pulau Flores  terjadi karena adanya Gempa di laut sebelah utara pulau Flores pada 12 Desember 1992 berkekuatan 6,8 skala richter (SR) ,

Epicenter gempa tersebut terletak 35 km arah barat laut dari kota Maumere,satu-satunya kota pelabuhan central di pulau Flores. Patahan/Sesar terdapat didaerah sekitar Tanjung Batumanuk dan Tanjung Bunga di bagian timur laut Flores Timur.Panjang Sesar kira-kira 110 km dan lebar 35 km. Berdasarkan survey tim dari Jepang, Matsutomi pada tanggal 30 Desember 1992 sampai 5 Januari 1993 ada ±1000 gempa susulan(aftershock) selama 1 minggu. Daerah pantai di bagian Barat cape of Batumanuk mengalami pengangkatan (uplifted),dengan kisaran 0,5-1.1 m. Penurunan (subsidence) terjadi di bagian Timur, dengan kisaran hingga 1,6 m di kampung Kolisia (±25 km Barat laut Maumere).Tsunami,menempuh jarak 300 km sebelum mencapai pesisir pantai utara Flores dengan tinggi gelombang mencapai 29 m.Gelombang laut raksasa tersebut menyapu bersih wilayah yang dilaluinya,khususnya daratan pantai utara Maumere dan sekitarnya. Pada kampung Wuring, yang terletak sekitar 3 km arah Barat Daya kota  maumere, tinggi gelombang mencapai daratan ±2.9 m diatas MSL; padahal tinggi daerah tersebut(ground height) hanya 1.8-2.1 m di atas MSL,sehingga air dari gelombang tsunami tersebut menggenangi seluruh kampung tersebut.kecepatan gelombang diperkirakan = 2.7-3.6 m/s oleh Matsutomi(1993).

 Kebanyakan rumah hancur berantakan, namun ada beberapa yang masih tersisa, yakni didaerah Barat Daya, sehingga hal ini mengindikasikan sapuan gelombang air tersebut dari Barat Laut kira-kira ada 1.400 orang yang tersapu gelombang tersebut dan 87 diantaranya wafat. Di pulau Babi, sebuah pulau yang berlokasi ± 40 km arah Timur Laut dari kota Maumere dan berhadapan langsung dengan pulau Flores ± 5 km di arah Selatan ada ± 700 jiwa menjadi korban tsunami yang ketinggiannya 5.6 m.. Wilayah  Kabupaten Sikka khususnya kota Maumere merupakan kawasan dengan tingkat risiko tsunami yang cukup tinggi, karena Maumere berada dekat zona subduksi lempeng Tektonik Australia dan Eurasia serta di pengaruhi oleh sesar-sesar aktif disepanjang pulau Flores. Secara Geografis, pulau Flores terletak diperbatasan zona konvergensi antara 2 mega-plates,yakni lempeng Hindia-Australia dan lempeng Eurasia, dengan demikian bukanlah hal luar biasa bila terjadi gempa didaerah tersebut..

Dalam perkliraan BNPB, yang terlihat dalam skenario simulasi, bahwa pusat gempa berada pada jarak 100 km barat laut Maumere dengan pusat gempa 121.561E, 8.085S (flores back –ARC THRUST) dengan kekuatan 8.1 SR dan kedalaman 10 km. Waktu kedatangan getaran sesudah gempa : 00:18 menit dan waktu kedatangan tsunami sesudah gempa : 03:75 menit.

Kenangan pahit bagi masyarakat dan komunitas    sekolah  pada bencana Gempa dan Tsunami di tahun 1992 adalah pelajaran yang menarik untuk mengambil langkah-langkah perbaikan dalam menghadapi ancaman tsunami pada masa yang akan datang. Beberapa langkah yang sudah dilakukan komunitas sekolah (SDK Maumere 2 dan MIS Wuring) bersama masyarakat kelurahan Kotauneng dan wolomarang dalam melakukan simulasi ancaman bencana gempa bumi dan tsunami, serta evakuasi mandiri yang dibuat BNPB bersama Wahana Tani Mandiri (WTM) yang di dukung oleh Oxfam GB dan AIFDR dalam program inisiasi PRB sekolah merupakan usaha membangun kapasitas komunitas sekolah agar bisa mengenal bencana dan memahami berbagai cara dalam upaya penyelamatan diri ketika bencana. Pada program PRB tahap kedua ini WTM bekerja sama dengan Oxfam Gb dan  AIFDR  akan melakukan kegiatan Pengembangan Lanjutan Manajemen PRB  di 2 sekolah  program.

Kegiatan ini akan dilaksanakan di masing-masing sekolah, dengan keterlibatan guru, murid,komite dan masyarakat sekitar sekolah. Agar kegiatan ini dapat berjalan maksimal maka diharapkan komunitas sekolah yang terlibat dapat mengambil bagian dalam kegiatan ini.

 2.TUJUAN

Adapun tujuan adalah :

  • Meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan bencana masyarakat sekolah tentang Pengurangan Risiko Bencana.

3.    SUMMARY ACTIVITIES

Berikut ini adalah beberapa kegiatan yang dilakukan dalam  Program Promosi Model Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah-sekolah di Kabupaten Sikka. Paparan kegiatan ini berupa kegiatan yang dilakukan berdasar pada rangkaian rancangan program maupun kegiatan yang dilakukan namun tidak dalam rencana rancangan program yang mana kegiatan-kegiatan tersebut berkolerasi dan mendukung capaian program.

Tujuan yng inigin dicapai adalah Peningkatan kesadaran dan pengetahuan sekolah di Kabupaten Sikka tentang bahaya, kerentanan dan risiko bencana di wilayah sekolah

 3.1.  School level

3.1.1. Peningkatan kapasitas guru

Sosialisasii program

Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Program Promosi Model Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah-sekolah di Kabupaten Sikka, dilaksanakan pada tanggal 31 oktober 2011 di MIS Wuring pada pukul 12.00 Wita dan tanggal 1 Nopember di  SDK Maumere 2  pada pukul 12.00 Wita. Yang hadir dalam pertemuan di  MIS Wuring : 27 orang.(laki-laki 8 orang,  perempuan :19 orang). Terdiri dari  Guru 18 orang dan siswa 2 orang sedangkan  di SDK Maumere 2 :yang hadir 19  orang.(laki-laki 8 orang,  perempuan :10 orang). Terdiri dari  Guru 14 orang, warga ssekitar sekolah 1 orang, komite sekolah 2 orang dan siswa 2 orang. Pembahasan program ini dimaksud agar komunitas sekolah memahami sejak awal tentang muatan program. Pesrta memahami gambaran program  yang akan dilaksanakan bersama pihak  sekolah. Dalam pembahasan ini juga dilakukan penyesuaian program PRB dengan kalender sekolah agar tidak mengganggu KBM. 

Latihan PRB bagi guru

Kegiatan PRB ini di laksanakan pada hari Sabtu/Minggu,Tanggal 19 dan 20 Nopember 2011 yang bertempat di PUSKOLAP Jiro-jaro. Kegiatan ini di ikuti oleh peserta dari 2 sekolah SDK Maumere 2 dengan jumlah peserta 11 orang dan Mis Wuring dengan jumlah peserta 11 orang. Peserta terdiri dari Guru, komite sekolah dan warga sekitar sekolah. Kegiatan di fasilitasi oleh fasilitator Carolus Winfridus Keupung dan Johanes Berkamans

Kegiatan ini telah meningkatkan pengetahuan para Guru mengenai Disaster Management/ manajeman bencana. Beberapa hal yang dipelajari yaitu pengenalan pemahaman  tentang bencana dilihat dari analisis  Ancaman,  Kerentanan, Kapasitas dan kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana yang terjadi.  Selain itu juga pemahaman yang baik tentang siklus/tahapan bencana yaitu Pra: (Pencegahan,Pengurangan,Reduksi), Saat: Tanggap Darurat dan Pasca*rehab rekon).  Dalam pelatihan ini juga dibahas tentang Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Sekolah untuk menanamkan kesiapsiagaan bencana kepada sekolah. Peserta mendiskusikan tentang  organsisasi pengurangan resiko bencana berbasis sekolah dengan suatu prosedur tetap seperti tugas dan tanggungjawab dari masing-masing tim siaga bencana dalam kesiapsiagaan bencana..

 Latihan PPGD bagi Guru

Dari berbagai kejadian bencana, sekolah merupakan wilayah paling rentan. Selain adanya banyak gedung dengan jarak yang cukup rapat atau dekat, juga dihuni oleh anak-anak dalam waktu yang cukup panjang yaitu kira-kira 8 s/d 10 jam. Sekolah juga merupakan suatu komunitas yang terpisah dengan masyarakat lainnya. Untuk itu sangat diperlukan upaya peningkatan kemampuan warga sekolah agar dapat secara mandiri melakukan kegiatan darurat. Dalam situasi darurat, semua orang berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Dan sangat mungkin warga sekolah tidak mendapat perhatian yang serius dari pihak lain atau mungkin saja terjadi bantuan yang datangnya terlambat.

 Selain itu kegiatan ini untuk menghindari keterlambatan penanganan korban maupun kesalahan penanganan pertama oleh orang-orang yang pada saat kejadian berada disekitar korban. Pemberian pertolongan pertama kepada  korban adalah suatu hal yang sangat penting dalam upaya penyelamatan hidup serta pencegahan kecacatan.

Untuk itu dilaksanakan PPGD Guru pada tanggal 3 – 4 Desember 2011, di PUSKOLAP Jiro – Jaro, Tanali Desa Bhera, Kecamatan Mego. Metode yang digunakan dalam PPGD Guru ini adalah : Diskusi, Pleno, Wawancara, Praktek lapangan (simulasi).

Kegiatan ini di fasilitasi Carolus Winfidus Keupung, Taufik Koban dan Bidan Agnes Dua Tai, A.md (Petugas puskesmas wolofeo). Peserta  kegiatan ini adalah guru – guru  dan komite dari SDK Maumere 2 dan MIS Wuring dengan jumlah peserta 22 orang.

Materi pelatihan ini yaitu Pengantar Penanggulangan Gawat Darurat, mengenal teknik pertolongan gawat darurat (Resusitasi jantung paru, pertolongan patah tangan, patah kaki, menyelamatkan korban, mengevakuasi korban dengan rintangan) dan simulasi penanggulangan gawat darurat.

 3.1.2.    Peningkatan kapasitas murid

Lomba menggambar

Kegiatan ini di laksanakan pada tanggal 12 november 2011 bertempat di Mis Wuring dengan peserta yang terlibat adalah siswa kelas  1 – kelas 6 dengan jumlah sebagai berikut : 312 (perempuan 159 ),( laki-laki 153).. Sedangkan jumlah guru yang terlibat dalam kegiatan ini adalah sebanyak 22 orang, perempuan 15 orang dan laki-laki 7 orang, dan SDK Maumere 2 pada pukul 08.00 pagi.. SDK Maumere 2 berjumlah 327 (perempuan 155),(172 laki-laki).. Sedangkan jumlah guru yang terlibat dalam kegiatan ini adalah sebanyak 19 orang (perempuan 13 ),( laki-laki 6).                       

Kepada masing-masing peserta diberikan fasilitas mengambar sebagai berikut:1 buah buku gambar, 1 buah pensil 2b, 1 buah stip/penghapus, 1 buah penggaris, 1 pak crayon dan buah peruncing

Beberapa hari sebelum dimulainya kompetisi menggambar para guru wali kelas menyepakati tema kompetisi menggambar adalah “bencana dan lingkungan”, dan  beberapa kriteria menggambar, antara lain: keindahan,  kerapihan, kebersihan, keserasihan dan kesesuaian tema. Sebagian peserta kelas 4, 5, dan 6 ada yang menggambarkan betapa dasyatnya gempa dan tsunami. Namun ada juga yang menggambar dasyatnya letusan gunung berapi, sebagian peserta menggambar lingkungan sekolah dan pemandangan alam. Saking semangatnya, karena keterbatasan meja dan kursi di kedua sekolah, siswa – siswi kelas  1 dan 2 terpaksa harus menggambar di lantai kelas beralaskan tikar. 

 Latihan  PRB siswa SDK Maumere 2 dan MIS Wuring

Anak usia sekolah tergolong kelompok yang paling rentan terhadap bencana. Minimnya informasi ,dan pengalaman untuk menekan resiko bencana yang didukung kondisi bangunan sekolah yang tidak tahan menyebabkan tingginya resiko yang di akibatkan oleh bencanai. Ancaman bencana selalu mengintai kehidupan manusia dan manusia juga selalu jadi korban bencana.

Untuk meningkatkan pengetahuan para siswa tentang kebencanaan.dan menganalisa kerentanan yang ada di sekolah, para  siswa diberikan pelatihan PRB. Kegiatan PRB siswa ini dilaksanakan di dua sekolah yakni SDK Maumere 2  tanggal 25-26 Nopember 2011 dengan jumlah peserta   41 siswa yang terdiri dari 17 laki – laki dan  24 perempuan. Sedangkan  MIS Wuring dilaksanakan  pada tanggal 1 Desember 2011 dengan jumlah peserta 58 siswa yang terdiri dari 23 laki – laki dan  35 perempuan Dalam paparan awal oleh para guru disampaikan bahwa PRB siswa merupakan suatu kegiatan untuk mengurangi resiko bencana sejak dini. Sekolah merupakan tempat yang paling utama, untuk membangun kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana.

Beberapa materi yang disampaikan yaitu pemahaman tentang bencana, ancaman, kerentanan, kapasitas, pemetaan (analisis). Metode yang digunakan yaitu ceramah, diskusi dan pemutaran film

3.2. Community Level

Napaktilas memperingati tragedi Gempa dan Tsunami12 Desember 1992

WTM menggagas acara memperingati bencana gempa dan tsunami  yang menelan korban 3000 jiwa yang melanda Flores umumnya serta kabupaten Sikka khususnya pada tahun 1992. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 2011 bersama BPBD, BASARNAS, PLAN, CHILDFUND, CARITAS, WVI, PERWAKAS, OPSI, HNSI, MAUMERE POS, MIS WURING, DAN SDK MAUMERE 2. Kegiatan berupa napak tilas dan renungan. dikuti oleh beberapa lembaga dan pihak peduli bencana sikka yang tergabung dalam Forum Penanggulangan Peduli Bencana (FPPB) Kabupaten Sikka, bertempat di pelabuhan Lorens Say Maumere. Napaktilas memperingati tragedi Gempa dan Tsunami 1992 dibuka dengan resmi oleh bapak ketua BPBD Kabupaten Sikka, Bpk. Hery Siku. Dalam pemaparannya Bpk. Hery Siku menyampaikan apresiasinya terutama kepada pelajar Sekolah Dasar yang sudah sejak dini telah mempersiapkan  diri menghadapi bencana yang akan datang menimpa. Dilanjutkan dengan pemaparan sejarah bencana Gempa dan Tsunami oleh MC Bpk Tonce dari stasiun Radio ROGATE FM. Setelah arahan, Tim Basarnas dan Relawan menyugukan atraksi Water Rescue (pertolongan pertama dilaut) selama  ½ jam. Tepat pukul 11.00 wit, para peserta melanjutkan aksi Long March serta orasi dan pembagian kembang yang bertuliskan “ ayo kita siaga” kepada siapa saja yang dijumpai sebagai tanda peringatan tragedi kemanusiaan tersebut dan ajakan kepada masyarakat untuk membangun kesiapsiagaan sedini mungkin. Peserta melakukan Long March  menuju kantor DPRD Sikka dan dikawal oleh kepolisian satuan polantas dari Polres Sikka.  Dikantor DPR Kabupaten Sikka peserta diterima oleh ketua komisi A, dan ketua komisi C, Serta beberapa pegawai sekretariat dewan. Seorang siswa mewakili peserta menyerahkan setangkai bunga dan sebuah dokumen yang berisikan ajakan untuk bersiap siaga yang diterima oleh Petrus Djelalu, ketua komisi C, Peserta kemudian mengajak anggota DPRD Sikka untuk bersama – sama  mengikuti acara tabur bunga memperingati korban gempa dan tsunami di pelabuhan rakyat Wuring.   Tepat pukul 12.00 Wit rombongan menuju pelabuhan rakyat wuring untuk melakukan tabur bunga (wuring adalah lokasi yang terkena dampak tsunami 1992 dan menelan banyak korban jiwa dan harta benda). Sampai di pelabuhan rakyat wuring rombongan disambut oleh warga sekolah Mis Wuring. Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa singkat oleh bapak Wahid Kamang (dari OPSI). Setelah itu diadakan penaburan bunga dan pelepasan karangan bunga oleh  Bapak Petrus Djelalu, dan diikuti  oleh para peserta utusan dari FPPB, BPPD, BASARNAS, SEKOLAH –SEKOLAH, LSM  dan Relawan. Acara  penaburan bunga berlangsung dengan hikmat.  .

Pada malam harinya bertempat di patung Kristus Raja   Maumere, para peserta kembali mengadakan doa dan renungan  serta pemasangan 3000 lilin untuk mengenang para arwah korban gempa dan tsunami. Tepat pukul 18.00 wit, acara dimulai dengan penyalaan 3000 lilin oleh para peserta kemudian dilanjutkan dengan renungan yang dibawakan oleh bapak Emanuel Ola dari SDK Maumere 2 dan doa Rosario.

Kampanye media.

Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dan menyebarluaskan informasi  tentang PRB sekolah, WTM melakukan kerjasama dengan media elektronik dan surat kabar. Beberapa kegiatan dipublikasikan di TV One, RCTI, TVRI dan surat kabar local. Tanggal 13 Desember 2011 TV One, RCTI, TVRI menyiarkan kegiatan renungan dengan focus berita Siswa SD melakukan renungan 12 Desember 2011 untuk mengenang gempa tsunami. Sementara surat kabar  Flores Star, Flores Pos dan Maumere Pos memuat berita tentang beberapa kegiatan program.

 3.3. Government Level

Perda penanggulangan bencana kabupaten sikka

Dalam upaya meningkatkan penyelenggaraan penanggulangan bencana di kabupaten Sikka, Tim WTM  bersama PLAN Internasional menjadi penggerak penyusunan draft Ranperda penyelenggaraan penanggulangan bencana di kabupaten Sikka dan melakukan diskusi intensif dengan tim DPRD Sikka yang akan menjadikan perda inisiatif. Draft PERDA sudah disusun pada periode sebelumnya. Tahap ini merupakan tahap lanjutan penyempurnaan. Dan dalam kesepakatan pertemuan pada awal bulan Nopember, bahwa untuk menyelenggarakan kegiatan lanjutan pembahasan PERDA Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dengan kegiatan konsultasi publik, akan dilakukan kolaborasi pelaksanaannya antara DPRD Sikka, PLAN, dan WTM.

Diskusi dengan Dinas PPO

Diskusi dilakukan di Kantor Dinas PPO Kab. Sikka, tanggal 23 Desember 2011 antara Benitius Daga (Wahana Tani Mandiri) dengan Hendrikus Minggu,S.pd kepala seksi Kurikulum TK/SD, Dinas PPO Kab. Sikka.  Materi diskusi seputar pengembangan kegiatan Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Sekolah. Bahwa suatu sikap dari pemerintah khususnya Dinas PPO bahwa Kementerian Pendidikan Nasional (KEMENDIKNAS) akan mengintegrasikan pengetahuan pengurangan risiko bencana(PRB) kedalam kurikulum. Siswa mulai jenjang sekolah dasar(SD) sampai pada tingkat sekolah menengah  atas (SMA) akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana. Bahwa  untuk menyelenggarakan penanggulangan bencana di sekolah melalui 3 hal. Pertama: pemberdayaan peran kelembagaan dan kemampuan komunitas sekolah., Kedua,         : pengintegrasian PRB kedalam kurikulum satuan pendidikan formal baik intra maupun ekstrakurikuler., Ketiga: membangun kemitraan dan jaringan antar pihak untuk mendukung pelaksanaan PRB di sekolah.

 3.4. Capacity Building for Partner

Pelatihan managemen keuangan 

Pada tanggal 22-24 Nop 2011 dilakukan pelatihan managemen keuangan. Hal ini dimaskud untuk meningkatkan kemampuan manajemen keuangan staf WTM khususnya staf keuangan WTM. Kegiatan difasilitasi oleh ibu Irma (Finance PRB Oxfam GB ).

 Pelatihan managemen bencana :

Pada tanggal 20 dan 21 Oktober 2011 ,staf Program Oktavia Yeni dan staf lembaga M.Marta Muda diutus mengikuti pelatihan disaster manajement  yang diselenggarakan oleh Oxfam/YPPS Larantuka di hotel Pelita Maumere..

Pelatihan tenaga penyuluh mitigasi gunung api

Melalui program promosi model kesiapsiagaan bencana di sekolah-sekolah kab. sikka,yayasan wahana tani mandiri(wtm) telah mengutus seorang stafnya atas nama Benitius Daga untuk mengikuti diklat pelatihan untuk penyuluh ( mitigasi bencana gunung api egon kab.sikka ) yang diselenggarakan oleh kementerian energi dan sumber daya mineral,badan pendidikan dan pelatihan energi dan sumber daya mineral,pusat pendidikan dan pelatihan geologi bekerjasama dengan BPBD Kab. Sikka. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada tanggal 23 – 25 november 2011 di Hotel Pelita.Maumere, Kab. Sikka.

Pembahasan draft rencana kontijensi

Pada tanggal 5 dan 7 Desember BNPB melakukan kegiatan revisi rencana kontigensi ancaman bencana gempa tsunami Kabupaten Sikka.. Kegiatan ini dikuti oleh KODIM, LANAL Maumere, POLRES, kesbangpol,  SOSNAKERTRANS, BPBD, SAR, PMI, WTM, PLAN, Child Fund. Kegiatan ini dilakukan untuk mengoreksi dokumen renkon yang dipakai saat simulasi nasional tanggal 27/28 september 2011.

 4.        PROGRAM ACHIVEMENT

Dari  berbagai aktivitas yang telah dilakukan seperti dalam ulasan tersebut  diatas, telah memberikan kontribusi yang positif  yang mengarah pada perubahan yang terjadi ditingkat sekolah, pemerintah dan mitra. Capaian tersebut baik secara kuantitatif maupun kualititatif yang berkorelasi pada pencapaian tujuan yang sesuai dengan indicator proyek .Berikut ini adalah gambaran atas capaian yang telah dicapai oleh Program Model Kesiapsiagaan Bencana di sekolah-sekolah kabupaten sikka.

Tujuan 1: Peningkatan kesadaran dan pengetahuan sekolah di Kabupaten Sikka tentang bahaya, kerentanan dan risiko bencana di wilayah sekolah

.4.1 School Level        

Pada saat awal dilakukan pembahasan program bersama para guru, komite sekolah dan utusan siswa dalam kegiatan sosialisai program. Pembahasan program ini dimaksud agar komunitas sekolah memahami sejak awal program tentang muatan program. Dalam pembahasan ini juga dilakukan penyesuaian program PRB dengan kalender sekolah agar tidak mengganggu KBM. 

Dari diskusi yang terjadi seorang guru (Pak Haji Syahrul Muh.Neng.Sag) mengatakan bahwa : PRB sekolah harus memberi nilai tambah  terhadap lingkungan sekolah ,misalkan Mis Wuring sangat rentan dengan  bencana  gempa dan tsunami, Dan berharap ada bantuan lainnya berupa dukungan rencana aksi sekolah untuk pembangunan fisik  dan Fasilitas lainnya dalam usaha pengurangan resiko bencana. Hal ini membuktikan bahwa ada suatu pemahaman yang baik sejak awal tentang pengurangan resiko bencana.

Namun dari pantauan selama diskusi di kedua sekolah tersebut terdapat sikap yang berbeda yaitu :

SDK Maumere 2.  Para guru sangat antusias, sementara di  MIS Wuring: Masih ada kesan kurang serius. Hal ini dinilai sebagai suatu tantangan pengembangan strategi pendekatan. Selain menjelaskan tentang pentingnya pengurangan resiko bencana di sekolah juga dijelaskan manfaat lain apabila program ini dikembangkan secara baik.Dalam perkembangan selanjutnya pada latihan DRR guru. Secara perlahan telah meningkatkan pengetahuan para Guru mengenai  Disaster Management/manajeman bencana. Para guru memahami dan menyadari tentang  Ancaman,  Kerentanan dan Kapasitas dan perlunya kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana yang terjadi.  Selain itu juga pemahaman yang baik tentang siklus/tahapan bencana yaitu Pra: (Pencegahan,Pengurangan,Reduksi), Saat: Tanggap Darurat dan Pasca (rehab renkon):

Dari kegiatan ini ada banyak pendapat atau ide-ide dari para peserta yang bersifat mendorong kegiatan pengurangan resiko bencana. Adapun pendapat dari  peserta menyarankan  sebaiknya  lokasi-lokasi yang rawan bencana sepert di MIS Wuring dapat ditanam pohon bakau dan rehab bangunan sekolah.

Selain itu para guru memahami peran para pihak dalam penangulangan bencana yang bukan hanya menjadi  tugas dari satu lembaga saja (BPBD) tetapi merupakan tugas dan tanggungjawab bersama baik pemerintah, Dunia Usaha maupun masyarakat. Dalam kaitan dengan peran masyarakat, ada beberapa orang guru meminta dilibatkan dalam kegiatan penanggulangan bencana di Kabupaten Sikka.

Semangat dan kemampuan para guru diperdalam lagi dalam  PPGD Guru untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan tanggap darurat bencana . Kemampuan peserta dalam melakukan penanggulangan gawat darurat cukup memadai..Kemampuan ini terukur dalam  simulasi pertolongan pertama gawat darurat.

Kapaitas social

Pada situasi awal, belum terjalin komunikasi baik di kedua sekolah. Lewat program ini selama kurun waktu 3 bulan WTM telah berupaya melakukan pendekatan ke kedua sekolah program melalui pelatihan, diskusi serta kegiatan external yang membuat hubungan social pada kedua sekolah ini mulai terjalin dengan baik.

Namun demikian belum semua guru terlibat dalam interaksi yang menarik ini. Sebagian besar guru-guru masih belum terlibat secara aktif. Masih ada kesan masa bodoh. Ada beberapa pendekatan lain yang dilakukan Tim program untuk meningkatkan kesadaran misalnya  melakukan renungan 12 Desember di PELRA Wuring, pertandingan sepakbola antara kedua sekolah, kunjungan rumah.

 Peningkatan kapasitas siswa

Pada awal program siswa sudah sedikit memahami  kebencanaan lewat program inisiasi PRB yang dilakukan selama 4 hari. Selanjutnya dalam program ini, saat dilakukan lomba menggambar ada banyak ekspresi dari siswa tentang kebencanaan.  Cukup banyak Siswa   yang menggambarkan betapa dasyatnya gempa dan tsunami., dasyatnya letusan gunung berapi, sebagian peserta menggambar lingkungan sekolah dan pemandangan alam. Saking semangatnya, karena keterbatasan meja dan kursi di kedua sekolah, siswa – siswi kelas  1 dan 2 terpaksa harus menggambar di lantai kelas beralaskan tikar. Hal menarik dari kegiatan ini adalah: Para siswa mampu menterjemahkan antara bencana dengan lingkungan (dalam konteks luas). Pada  saat latihan PRB untuk siswa kemampuan siswa lebih meningkat lagi. Siswa mampu menganalisa ancaman, kerentanan dan kapasitas yang ada di sekolah.

 4.2. Community Level

Dalam program ini tidak ada satu penekanan khusus kepada peningkatan peran masyarakat dalam memperkuat kapasitas sekolah menghadapi bencana.  Masyarakat yang terlibat masih sangat terbatas pada komite sekolah dan warga sekitar sekolah yang ikut kegiatan pelatihan.  Dari berbagai diskusi nonformal diseputar sekolah sangat terlihat  bahwa masyarakat belum memahami pentingnya pengurangan resiko bencana khususnya  berbasis sekolah. Sebagian besar masyarakat disekitar sekolah masih bersikap  apatis, beranggapan bahwa kebutuhan dan kepentingan sekolah dapat diatasi oleh pihak sekolah dan bukan campur tangan dari luar.Ada tanggapan juga yang mengatakan kalau kegiatan PRB disekolah ini tidak punya nilai tambah untuk siswa dan untuk masyarakat.Dari tanggapan ini menunjukan tingkat kerentanan social yang masih sangat tinggi. Untuk itu dalam upaya mendukung PRB berbasis sekolah, WTM  berencana untuk melakukan pertemuan dengan Remaja Mesjid untuk MIS Wuring dan OMK St. Yoseph Maumere.

Selain itu dalam upaya memaksimalkan program, WTM menggagas acara memperingati bencana gempa dan tsunami  menelan korban kira-kira 3000 jiwa yang melanda flores umumnya serta kabupaten sikka khususnya pada 12 Desember 1992.. Kegiatan ini didukung oleh beberapa lembaga yaitu WTM, SDK Maumere 2, MIS Wuring, OPSI, SAR Maumere, PLAN Int, BPBD, Child Fund, T-Reben, Caritas Maumere., Tujuannya adalah menggugah kepedulian masyarakat terhadap pengurangan resiko bencana. Kepala BPBD KABUPATEN SIKKA Hery Siku. dalam paparannya menyampaikan apresiasinya terutama kepada pelajar Sekolah Dasar yang sudah sejak dini telah mempersiapkan  diri menghadapi bencana yang akan datang menimpa. Dalam aksi Long March serta orasi dan pembagian kembang yang bertuliskan “ ayo kita siaga” kepada siapa saja yang dijumpai sebagai tanda peringatan tragedi kemanusiaan tersebut dan ajakan kepada masyarakat untuk membangun kesiapsiagaan sedini mungkin.

Kegiatan ini telah memberi pesan kepada para pihak. Imam mesjid wuring, pada saat diminta untuk membawakan doa di PELRA Wuring mengatakan bahwa ia terharu karena ada orang yang peduli dengan korban bencana 1992. Anggota DPRD yang dari awal tidak terlibat dalam diskusi kemudian mengikuti acara penaburan bunga. Dan masih banyak lagi kesan yang tidak dideteksi. Hal yang paling penting dari kegiatan ini adalah membangkitkan rasa kepedulian orang terhadap upaya pengurangan resiko bencana.

4.3. Government Level

Bangsa Indonesia telah memiliki undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang merupakan tuntutan pelaksanaan pembaharuan pendidikan yang diharapkan dapat mendukung segala upaya untuk memecahkan masalah pendidikan. Dalam proses pembelajaran, kurikulum merupakan salah satu komponen yang yang sangat penting,selain guru sarana dan prasarana pendidikan lainnya. Oleh karena itu,kurikulum digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan dan sebagai salah satu indikator mutu pendidikan. Di Indonesia tercatat telah 5 kali revisi kurikulum pendidikan dasar dan menengah, yaitu pada tahun 1968, 1975, 1984, 1994 dan uji coba kurikulum tahun 2004. Revisi kurikulum tersebut bertujuan untuk mewujudkan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, guna mengantisipasi perkembangan jaman serta untuk memberikan guideline atau acuan bagi penyelenggaraan pembelajaran di satuan pendidikan.

Strategi Nasional Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana kedalam system pendidikan memiliki :

VISI :  terwujudnya budaya aman dan siaga terhadap bencana melalui sistem desentralisasi pendidikan yang mampu mendukung pengurangan risiko bencana melalui upaya pengurangan kerentanan dan peningkatan kapasitas di sektor pendidikan.

MISI : (1).Meningkatkan kemampuan komunitas sekolah dan penguatan kelembagaan system pendidikan pada tingkat sekolah,gugus sekolah,pemerintah kabupaten/kota,propinsi dan pusat untuk dapat mewujudkan praktik-praktik pengarusutamaan pengurangan resiko bencana kedalam system pendididkan. (2). mewujudkan praktik-praktik pengarusutamaan pengurangan resiko bencana kedalam system pendidikan melalui upaya integrasi PRB kedalam kurikulum pendidikan dan program kesiapsiagaan sekolah yang disesuaikan dengan kondisi kerawanan kebencanaan di daerahnya,kemampuan pemangku kepentingan tingkat sekolah maupun pemerintah kabupaten/kota,serta mendistribusikan pembelajaran dari praktik-praktik tersebut kepada para pemangku kepentingan tersebut.. (3).Membangun kemitraan yang kuat antara berbagai pihak yang dapat mendukung pelaksanaan praktik-praktik pengarusutamaan pengurangan resiko bencana kedalam system pendidikan. (4).Memfasilitasi penyusunan kerangka hukum untuk pengarusutamaan pengurangan risiko bencana kedalam system pendidikan di tingkat sekolah,pemerintah kabupaten/kota,propinsi dan pusat yang disusun melalui konsultasi public. (5).Melaksanakan pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan program pengarusutamaan pengurangan risiko bencana kedalam system pendidikan untuk menghasilkan umpan balik bagi perbaikan kebijakan dan pelaksanaan program.

TUJUAN : Terbangunnya budaya siap dan siaga bencana (kesiapsiagaan) diantara masyarakat, pemerintah dan para pemangku kepentingan melalui penguatan system pendidikan yang mampu meningkatkan pemahaman risiko bencana dan kesiapsiagaan bencana melalui penyelenggaraan serta penyempurnaan kemampuan praktik-praktik pengurangan risiko bencana secara berkelanjutan yang berlandaskan prinsip-prinsip kemitraan.    

Lebih lanjut, melihat hal penting diatas melalui hasil diskusi tanggal 23 Desember 2011 menghasilkan suatu sikap dari pemerintah khususnya Dinas PPO Kab. Sikka bahwa Kementerian Pendidikan Nasional(KEMENDIKNAS) akan mengintegrasikan pengetahuan pengurangan risiko bencana(PRB) kedalam kurikulum. Siswa mulai jenjang sekolah dasar (SD) sampai pada tingkat sekolah menengah  atas (SMA) akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana.

Selain itu juga dikatakan bahwa Dinas PPO Kab. Sikka akan turut serta memberikan pemahaman PRB di Sekolah di Kab. Sikka. sesuai  kebijakan kemendiknas melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional No.70a/SE/MPN/2010 tentang Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah. Dalam surat edaran itu mendiknas mengimbau kepada seluruh Gubernur, Bupati dan Walikota untuk menyelenggarakan penanggulangan bencana di sekolah melalui 3 hal. Pertama: pemberdayaan peran kelembagaan dan kemampuan komunitas sekolah., Kedua,: pengintegrasian PRB kedalam kurikulum satuan pendidikan formal baik intra maupun ekstrakurikuler., Ketiga: membangun kemitraan dan jaringan antar pihak untuk mendukung pelaksanaan PRB di sekolah.

Secara intuisi setiap orang mempunyai naluri untuk menyelamatkan diri dari bencana. Menurut Dinas PPO Kab. Sikka, dengan berpengetahuan menyelamatkan diri secara cerdas dan sistematis maka dapat mengurangi risiko bencana. ”dalam penyelamatan juga akan terlihat solidaritas dalam berempati dan simpati dari siswa ketika terjadi bencana alam”. Pengintegrasian materi dilakukan pada tingkat bahasan sehingga tidak membebankan dan tidak berpengaruh pada standar isi. Artinya merubah peraturan perundang-undangan.

Contoh,pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Geografi, siswa mendapatkan pengetahuan tentang gempa tektonik dan vulkanik.”Siswa diharapkan tidak hanya memiliki, memahami,,tetapi mempunyai kompetensi”ujarnya.

Contoh lain,pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada konteks kehidupan bersama saat terjadi bencana.Siswa dapat mengembangkan rasa empati dan simpati. kemudian pada mata pelajaran Kewarganegaraan topik bahasan hak dan kewajiban warga Negara “Dalam kehidupan berdemokrasi kita sisipi saat bencana banjir”,jelasnya.

Menilik dari diskusi bersama Dinas PPO, menunjukan adanya suatu konsep yang selaras dengan program yang sedang dilakukan.

 4.4. Capacity Building for Partner

Sebelum adanya program ini, WTM sudah memiliki kemampuan dasar tentang pengurangan risiko bencana. Berbagai pelatihan dan diskusi baik oleh pemerintah maupun LSM selalu melibatkan WTM. WTM juga merupakan lembaga penggagas berbagai kegiatan pengurangan risiko bencana di Kab. Sikka.

Terkait dengan PRB Berbasis sekolah, WTM pernah mendampingi 10 sekolah dalam program building recilience. Namun secara khusus mengembangkan program PRB Berbasis Sekolah, merupakan hal baru dalam program ini. Lewat program ini, WTM belajar tentang implementasi PRB ke dalam sekolah secarah utuh, dengan berbagai kerentanan yang ada dalam sekolah maupun warga sekitar sekolah.

Untuk meningkatkan kualitas program, WTM juga secara mandiri melakukan beberapa pemberdayaan staf secara mandiri berupa pembahasan situasi dan kondisi kedua sekolah, pendalaman materi dan mengirim staf mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh lembaga lain.

PROFIL WAHANA TANI MANDIRI

Kantor pusat WTM

 

I. Data lembaga

 1. Nama                              : Yayasan Wahana Tani Mandiri yang disingkat WTM.

2. Alamat                            : Kantor Utama :              Jl. Feondari, Tanali, Desa Bhera,

Kec. Mego,  Kab.    Sikka

Kantor penyanggah :     Jl. Muu Kowot, Kelurahan Wolomaran,

Kec. Alok Barat,  Kab.Sikka, Prop: NTT      .3.Tanggal berdiri                : 29 Januari 1996.

4. No & Tgl. Akte              : No 136 tangga129 Januari 1996.

5. Notaris                            : Silvester J. Manbaitfeto, SH

6. Legalisasi                        : Terdaftar pada Kepaniteraan Pengadilan Negeri Maumere Nomor :

06/Not/1997/PN.MMR, Hari Kamis, Tanggal 23 januari 1997

7. Lingkup Wilayah Kerja : Propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa

8. Status Organisasi            : Pusat

9. Ciri Organisasi WTM  :1)    Kepedulian terhadap masyarakat  miskin atau kurang mampu

2)  Non profit

3)  Non politis

4)  Hubungan dengan kelompok sasaran partisipatif

5)  Menjalin kerja sama dengan pihak lain

6)  Kritis terhadap masalah yang ada di sekitar

7)  Pengorganisasian intern bersikap demokratis

 

10. Penanggungjawab     Carolus Winfridus Keupung

HP   : 081 339 407 729

 

II. Hakekat

Manusia sebagai makluk sosial tentunya memiliki kepedulian terhadap sesama manusia yang lain. Bentuk kepedulian itu diekspresikan dengan berbagai cara, tergantung dari cara pandang, potensi sumber daya, isyu dan lain sebagainya. Demil€ian pula WTM yang dibentuk atas inisiatif beberapa orang dan ada unsur sukarela merupakan suatu organisasi yang bergerak di bidang sosial (non profit) dihadirkan untuk hidup dan berkarya bersama­-sama sebagai bagian integral dari proses pembangunan manusia seutuhnya. Sebagai lembaga sosial yang mempunyai pengalaman dalam pembangunan pertanian yang bertumpu pada masyarakat, maka WTM senantiasa memperhatikan partsipasi mayarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan serta monitoring dan evaluasi. Prinsip kerja seperti ini didasarkan pada cara pandang lembaga yang selalu melihat bahwa masyarakat bukanlah “Botol Kosong” yang perlu diisi, namun sebetulnya mereka mempunyai potensi yang masih perlu didorong dan diberi peluang untuk dapat berkembang.

Pembangunan nasional bertujuan membangun manusia seutuhnya dalam konteks lahir dan batin; menyadari berbagai keterbatasan WTM dalam mengembangkan program bersama masyarakat menuju kepada kemandirian baik individu maupun institusional, WTM selalu mengembangkan Net Working dan kemitraan baik dengan pemerintah maupun lembaga seprofesi sehingga lebih megukuhkan semboyan sederhana tersebut di atas yakni “Manusi Hidup untuk Memanusiakan Manusia Lain”.

 

III. Visi/misi

Visi Yayasan Wahana Tani Mandiri adalah : “MASYARAKAT TANI YANG MANDIRI”

Misi Yayasan Wahana Tani Mandiri adalah :

Mengembangkan pola piker, sikap kemandirian, dan kemampuan masyarakat tani untuk memperbaiki taraf hidup dengan memperhatikan kelesetarian lingkungan.

 

V. Strategi

Strategi Yayasan Wahana Tani Mandiri adalah :

1. Menumbuhkembangkan kelompok swadaya masyarakat                                                . 2.Mengembangkan pendidikan formal dan non formal

3. Mengembangkan program yang berspektif gender

4. Mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan

5. Advokasi masalah-masalah sosial

VI. Tujuan

Tujuan dari Yayasan Wahana Tani Mandiri adalah :

1.   Mengembangkan pola pikir sikap, kemandirian dan kemampuan masyarakat tani untuk memperbaiki taraf hidup dengan memperhatikan kelestarian lingkungan

2.   Berpartisipasi bersama masyarakat dan pemerintah dalam mensukseskan pembangunan sebagaimana yang dicita-citakan untuk kemakmuran bangsa

3.     Berpartisipasi bersama masyarakat desa agar lebih mengetahui keberadaan lingkungan serta potensi yang dimiliki untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi kesejahteraan.

VII. Bidang Kegiatan

Untuk mencapai tujuan di atas maka Yayasan Wahana Tani Mandiri mengembangkan lima bidang kegiatan yakni :

1. Pengembangan pertanian

2. Pengembangan permodalan

3. Pengembangan sumber daya manusia

4. Pengembangan kesehatan masyarakat

5. Pengembangan Lingkungan dan kebencanaan

6. Pengembangan ekonomi

ix. pusat sekolah lapangan (puskolap) jiro jaro

WTM memiliki sebuah training centre atau lebih dikenal dengan Pusat Sekiolah Lapangan / field training centre, Letaknya di Lekebai, 35 km dari kota Maumere. Tempat ini merupakan tempat belajar bagi semua pihak yang  mengembangkan kegiatan pertanian dan lingkungan. Fasilitas yang ada berupa : lahan 1,5 ha, Aula, penginapan, dapur dan kamar makan. Dalam rencana pengembangannya akan dilakukan penyediaan contoh model berbagai konsep pengembangan usaha tani dan lingkungan.

Selama ini berbagai kegiatan pelatihan dilakukan di PUSKOLAP. Jiro jaro Baik kegiatan program WTM maupun dari lembaga lain

IX. Personalia

1. Pembina :                            Fransiskus Nong, SP

Rm. Ansel, Pr

2. Pengawas :                          Blasius Rada

Helena Doi

3. Pengurus

Ketua                                           : Carolus Winfridus Keupung

Sekretaris                                     : Raimundus Tiwa

Bendahara                                    : Kristoforus Gregorius

Tim Pelaksana

Direktur                                       : C. Winfridus Keupung

Admin dan Keuangan                 : Elensiana Lusia

Divisi Program Lapangan            : Kristoforus Gregoriusi     (Koordinator)

Benitius Daga, Thomas Koremas

Divisi Pusat Riset Pengelolaanan  Lingkungan dan PUSAT SEKOLAH LAPANGAN

Heribertus Naif (Koordinator)  Martinus Maju


Wahana Tani Mandiri Gagas Sekolah Siaga Bencana

Wahana Tani Mandiri Gagas Sekolah Siaga Bencana

Kupang, FloresNews.com – Wahana Tani Mandiri menggagas sekolah siaga bencana dengan melakukan kegiatan pendidikan tanggap darurat bagi para guru yang berada di sekitar kaki Gunung Egon di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. “Fokus utama kami bagi sekolah-sekolah yang ada di kaki Gunung Egon, seperti di wilayah Kecamatan Mapitara dan Doreng, Kabupaten Sikka,” kata Direktur Wahana Tani Mandiri Carolus Winflidrus Keupung melalui surat elektroniknya, Minggu (19/12).

Ia menjelaskan tahap awal pelatihan difokuskan pada 10 sekolah dalam wilayah kecamatan tersebut dengan melibatkan instruktur dan fasilitator dari lembaga yang dipimpinnya, Wahana Lingkungan Hidup NTT, Tagana Kabupaten Sikka dan staf Dinas Kesehatan setempat. Kegiatan tersebut sudah dilakukan pekan lalu di Pusat Pendidikan dan Pengelolan Lingkungan Hidup Jiro-Jaro Tana Li, Desa Gera, Kecamatan Lekebai, Kabupaten Sikka.

Setelah melakukan kegiatan tersebut, kata dia, muncul lagi gagasan untuk melakukan hal-hal yang sama di sekolah-sekolah guna memotivasi para guru agar menjadikan sekolah tersebut sebagai sekolah siaga bencana. “Kita berharap pihak-pihak yang terlibat untuk mengembangkan gagasan ini ke depan tidak bermental proyek melainkan membudayakan kesiapsiagaan kebencanaan. Prinsipnya kita yang berada di kawasan genting, dituntut kesiapsiagaan,” katanya.

Para peserta juga dibekali tentang apa itu bencana, kerentanan, ancaman dan kapasitas dalam penanganan kegiatan kebencanaan perlu diubah paradigma tanggap darurat menjadi pengurangan risiko bencana. “Pembicaraan ini kemudian mengerucut pada pembentukan Sekolah Siaga Bencana,” ujarnya.(ant)

Sumber: http://www.floresnews.com/fn1/index.php?option=com_content&view=article&id=2275:wahana-tani-mandiri-gagas-sekolah-siaga-bencana&catid=105:panduan-studi&Itemid=301

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.